Tradisi Mandai Ulu Taon Napitu Huta Menggema Dari Rokan Hulu Ke Dunia, Warisan Leluhur Yang Tak Terkikis Zaman Tradisi Leluhur Mandailing Kembali Menggema Dari

Rokan Hulu – Ribuan masyarakat memadati kawasan Bagas Rarangan Boru Namora Suri Andung Jati dalam pelaksanaan Tradisi Mandai Ulu Taon Napitu Huta yang berlangsung khidmat dan penuh makna budaya.

Kehadiran Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Rohul menjadi simbol kuat bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam dalam menjaga denyut adat dan identitas masyarakat Melayu-Mandailing di tengah arus modernisasi global.

Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun itu bukan sekadar ritual makan bersama. Mandai Ulu Taon merupakan lambang persatuan, rasa syukur, penghormatan terhadap sejarah, sekaligus pengingat bahwa akar budaya adalah benteng terakhir sebuah bangsa.

Di tengah derasnya budaya digital dan lunturnya nilai adat di banyak daerah, masyarakat Napitu Huta justru menunjukkan keteguhan menjaga marwah tradisi.

Suasana sakral terlihat ketika tokoh adat, pemuka masyarakat, pemerintah daerah hingga generasi muda larut dalam prosesi budaya yang sarat filosofi kebersamaan.
Tradisi Mandai Ulu Taon diketahui digelar untuk mengenang perjuangan Boru Namora Suri Andung Jati, tokoh perempuan Mandailing yang dihormati masyarakat sebagai simbol keberanian, kepemimpinan, dan persatuan masyarakat Mandailing di Rokan Hulu. Acara ini juga menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan kehidupan yang terus berjalan harmonis.

Pj Sekda Rohul dalam kesempatan itu menegaskan pentingnya menjaga adat sebagai identitas daerah yang tidak boleh hilang ditelan zaman. Menurutnya, budaya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan kekuatan sosial yang menyatukan masyarakat lintas generasi.

“Tradisi adalah kekuatan bangsa. Ketika budaya hilang, maka jati diri daerah ikut hilang,”menjadi pesan kuat yang menggema di tengah pelaksanaan kegiatan tersebut.

Kehadiran pemerintah dalam acara adat ini dinilai masyarakat sebagai bentuk penghormatan nyata terhadap sejarah dan budaya lokal. Banyak pihak menilai langkah tersebut penting di tengah kekhawatiran generasi muda mulai menjauh dari akar tradisi akibat pengaruh globalisasi dan media sosial.

Mandai Ulu Taon kini tidak lagi dipandang sebagai kegiatan lokal semata.

Tradisi ini mulai menjadi perhatian luas karena memiliki nilai budaya, sejarah, hingga potensi wisata adat yang mampu menarik perhatian nasional bahkan mancanegara. Nilai gotong royong, makan bersama, penghormatan terhadap leluhur, dan persatuan lintas marga menjadi pesan universal yang relevan bagi dunia modern saat ini.

Pelaksanaan Mandai Ulu Taon juga menjadi bukti bahwa Rokan Hulu tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga kaya warisan budaya yang hidup dan terus dijaga masyarakatnya. Tradisi ini memperlihatkan bahwa modernisasi tidak harus menghapus identitas lokal, melainkan dapat berjalan berdampingan dengan adat dan nilai leluhur.

Di tengah dunia yang semakin individualistis, masyarakat Napitu Huta justru memperlihatkan wajah Indonesia yang sesungguhnya: kuat karena persatuan, kokoh karena budaya, dan dihormati karena menjaga sejarahnya sendiri.

Tradisi Mandai Ulu Taon hari ini bukan hanya milik Mandailing atau Rokan Hulu. Ia telah menjadi pesan untuk Indonesia dan dunia bahwa budaya leluhur masih hidup, masih dihormati, dan masih menjadi perekat masyarakat di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat.
(RJ)







Pos terkait